Seorang sahabat bertanya padaku, "Kawan, apa kau tahu di manakah letak 'hati' itu?"
Aku pun menjawab, "Menurutmu sendiri, letak hati itu...?"
Dia membalas, "Entahlah, aku juga tidak mengerti di mana letak 'hati' itu. Orang-orang selalu berbicara tentang 'hati','hati', dan 'hati'. Tapi mereka tak pernah bisa menunjukkan padaku di mana 'hati' itu berada. Membuatku ragu, bahkan muak dan jengkel apakah 'hati' yang selalu mereka katakan itu benar-benar ada ataukah hanyalah karangan dan bualan mereka semata."
Aku menjawab dengan senyuman manis, "Pernahkah kau mencoba untuk melihatnya ke dalam dirimu sendiri dan mencoba untuk memastikan, pakah 'hati' itu memang benar-benar ada dan setiap orang memilikinya...?
Dia menjawab kembali, "Dalam organ tubuh manusia tidak pernah kutemukan apa yang namanya 'hati'. Yang ada hanyalah jantung, empedu, dan lambung, dan yah... Kau tahu sendiri lah, tidak ada kutemukan apa yang namanya 'hati' itu."
Bukannya marah atau kesal, aku justru semakin tersenyum hangat sembari bertanya kembali padanya, "Oh ya...? Kau mau tahu letak 'hati' itu di mana...?"
Dia seakan menganggap remeh aku dan menanggapi, "Oke, tunjukkan padaku kalau kau memang tahu."
Aku memejamkan mata sejenak, membukanya lalu bertanya padanya, "Setiap orang pernah marah... Apa kau pernah marah...?"
Dia menjawab tegas, "Tentu, tentu saja. Aku sering sekali marah karena banyak orang yang seolah-olah bisa aku percaya tapi ternyata tidak bisa aku andalkan saat aku membutuhkan mereka."
Aku mendengarkan jawabannya sembari mengangguk-angguk paham dan lalu menjawab, "Oh begitu... Apa kau pernah merasa sakit hati karena perkataan seseorang...?"
Dia menjawab lagi, "Tentu. Walaupun cuma kata-kata, tapi tetap saja membuatku kesal setengah mati."
Aku bertanya lagi sambil tersenyum, "Lalu, pernahkah kau jatuh hati pada seseorang...?"
Terlihat mulai lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku ajukan, dia menjawab singkat, "Tentu saja pernah. Kalau lihat cewek cantik dan badannya bagus, memangnya kau tidak jatuh hati?"
Lagi-lagi sambil tersenyum, aku bertanya lagi kepadanya, "Tentu saja itu adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi kan...? Lantas saat kau jatuh hati, apa yang kau rasakan...?
Akhirnya dia benar-benar kesal dengan pertanyaan-pertanyaanku dan berkata, "Aarghh.. Sudahlah, aku sudah muak dengan pertanyaan-pertanyaanmu ini. Apa sih sebenarnya yang mau kau katakan??"
Aku pun menghela nafas lalu berkata, "Saat kau sakit hati, ataupun saat kau jatuh hati, pasti ada sesuatu rasa di dada yang tidak bisa kau jelaskan. Itu menunjukkan bahwa 'hati' itu ada. Tapi kau pasti tak bisa menemukannya. Karena 'hati' tidak ada di dalam tubuh manusia..."
Sepintas dia terlihat bingung, "Lalu, apakah sebenarnya 'hati' itu tidak ada?"
Aku menatapnya sambil tersenyum, "Ada... Letaknya memang di dalam dada... Tapi bukan di dalam rongga dada tubuh manusia..."
Dia mengernyitkan sebelah alisnya,"Lalu?"
Aku berdiri dan melihat jauh ke langit, " 'Hati' yang kau cari itu ada di dalam dada, pada jiwa manusia... Kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, sebagaimana kita tidak bisa melihat roh dan jiwa pada manusia... Tapi kita tahu dengan merasakannya, bahwa roh dan jiwa itu ada... Bahwa 'hati' itu ada... Makanya saat kita merasa jatuh hati, 'hati' ini seakan meloncat-loncat saking senangnya dan ingin menarik kita mendekat pada orang itu... Kemudian saat kita sakit hati, 'hati' ini benar-benar merasa sakit, sedih, menangis bahkan terluka... Bahkan mungkin sakitnya terasa sampai ke jantung ini, yang letaknya juga ada di dalam dada... Rongga dada tubuh manusia... Ia juga ikut merasakannya karena jiwa dan tubuh manusia saling menyatu, mengisi, mengalir dan memenuhi satu sama lain..."
Ia hanya diam, tidak berkata apa-apa.
Sedangkan aku lalu melanjutkan sambil tersenyum sangat manis dan begitu hangatnya, "Karena itu, jagalah 'hati' yang begitu indah itu... Isilah dengan kebaikan dan buatlah 'hati' itu merasa senang dan bahagia tiap saat... Namun bukan hanya 'hati'mu saja, namun juga 'hati' orang lain... Karena sesungguhnya 'hati' yang satu ikut senang apabila 'hati' yang lain juga merasa senang...
'Hati'... Ya, 'hati nurani' yang begitu indah... Yang telah dicipta oleh Sang Pencipta Yang Maha Indah pula..."
Senin, 28 Juli 2008
SAHABAT: Saat Rasa Sepi Muncul di Hati
Saat santai dan melepas lelah adalah salah satu momen yang kusukai. Yah, pasti bukan hanya aku saja lah. Semua orang pasti juga begitu. Setidaknya, itu menurutku. Siapa sih yang mau kerja, atau belajar terus-terusan tanpa berhenti, tanpa beristirahat sedikitpun? Pasti kita semua butuh istirahat kan?
Saat itu, aku sedang duduk-duduk di halaman rumah. Duduk di kursi empuk berwarna merah sambil melihat berbagai macam bunga dan tanaman yang tumbuh di halaman, dan juga sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang membuat pikiran ikut menjadi rileks.
Sesaat kemudian, seorang sahabatku datang dan duduk di sampingku. Aku mengenalnya sudah lama sekali. Semenjak aku masih kecil, semenjak masih duduk di bangku TK. Akhirnya dia pun ikut menemaniku melepas lelah.
Aku bertanya padanya dengan suara yang kalem seperti biasa, "Habis dari mana nih...?"
"Dari rumah. Tadi habis kuliah, aku jalan-jalan sebentar sama teman-teman." jawabnya dengan tersenyum.
"Ooh... Sama teman-teman kuliah ya...? Enak ya bisa keluar jalan-jalan bareng sama teman kuliah... Kalo aku sih jarang bisa jalan-jalan bareng kayak gitu... Biasa lah... Sok sibuk..." kataku sambil tertawa.
Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya sesuatu... "Pernah enggak kamu merasakan, walaupun kita berada di antara keramaian, tapi hati kita merasa sepi? Kenapa ya aku merasa seperti itu?"
Aku menatapnya sejenak, lalu aku melihat ke angkasa. Aku sendiri tak tahu kenapa aku memandang ke angkasa. Setelah menghela nafas panjang, kau pun menjawab, "Aku juga dulu pernah, bahkan sering merasakan yang seperti itu... Aku juga waktu itu nggak tahu kenapa bisa merasa kayak gitu... Waktu itu teman-teman ada di dekatku, mereka semua bercanda dan tertawa, ramai sekali... Tapi aku toh tetap merasa kesepian..."
"Hemm... Ya, itu juga yang aku rasakan...? Kenapa ya...? dia bertanya lagi untuk kedua kalinya.
Aku lalu berkata, "Mungkin alasan kita kesepian adalah karena..."
Tiba-tiba kata-kataku terhenti. Untuk beberapa saat, kami berdua terpaku dalam kesunyian, menunggu kata-kata berikutnya terucap.
"...Karena sebenarnya saat itu kita memikirkan seseorang dan kita ingin dia berada di samping kita, menemani kita dalam keramaian itu... Mungkin itu alasannya...? Dan mungkin itu juga yang kamu rasakan...?" akhirnya aku melanjutkan kata-kataku yang terputus tadi.
Dia terpaku sejenak, berpikir. Lalu akhirnya setelah diam tak berucap apapun, aku pun melanjutkan berbicara, "Yah, itu hanya pendapatku aja kok... Bisa jadi juga sebenarnya hati kita sedang lelah dan sedang ingin beristirahat dalam kesunyian...?"
"Ya, mungkin kamu benar... Mungkin aku sedang menginginkan seseorang untuk hadir di sana, tapi pada kenyataannya dia tidak ada di sana... Mungkin saat itu aku sedang merindukan seseorang ya...? Tapi memang benar, merindukan seseorang dan berharap akan kehadirannya itu memang melelahkan... Dan mungkin hatiku sudah lelah..." jawabnya lirih.
Aku menatapnya sambil tersenyum, "Nggak apa-apa... Wajar kalau kita terkadang merasa kesepian... Tapi andaikan suatu saat kamu merasa kesepian seperti itu lagi, ingatlah aku... Ingatlah sahabatmu ini..." kataku sambil tak berhenti tersenyum.
Ia lalu menatapku sejenak, lalu ikut tersenyum juga. "Iya deh, saat aku merasa kesepian nanti, aku akan coba untuk mengingat kalau ada kamu... Sahabat terdekatku..."
Kami pun lalu tetap saling tersenyum, hingga akhirnya kami berdua tertawa... Tertawa, karena kami percaya dan saling mendukung satu sama lain...Tertawa, tanpa ada rasa sepi yang tersisa...
Saat itu, aku sedang duduk-duduk di halaman rumah. Duduk di kursi empuk berwarna merah sambil melihat berbagai macam bunga dan tanaman yang tumbuh di halaman, dan juga sesekali memperhatikan orang-orang yang lalu lalang membuat pikiran ikut menjadi rileks.
Sesaat kemudian, seorang sahabatku datang dan duduk di sampingku. Aku mengenalnya sudah lama sekali. Semenjak aku masih kecil, semenjak masih duduk di bangku TK. Akhirnya dia pun ikut menemaniku melepas lelah.
Aku bertanya padanya dengan suara yang kalem seperti biasa, "Habis dari mana nih...?"
"Dari rumah. Tadi habis kuliah, aku jalan-jalan sebentar sama teman-teman." jawabnya dengan tersenyum.
"Ooh... Sama teman-teman kuliah ya...? Enak ya bisa keluar jalan-jalan bareng sama teman kuliah... Kalo aku sih jarang bisa jalan-jalan bareng kayak gitu... Biasa lah... Sok sibuk..." kataku sambil tertawa.
Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya sesuatu... "Pernah enggak kamu merasakan, walaupun kita berada di antara keramaian, tapi hati kita merasa sepi? Kenapa ya aku merasa seperti itu?"
Aku menatapnya sejenak, lalu aku melihat ke angkasa. Aku sendiri tak tahu kenapa aku memandang ke angkasa. Setelah menghela nafas panjang, kau pun menjawab, "Aku juga dulu pernah, bahkan sering merasakan yang seperti itu... Aku juga waktu itu nggak tahu kenapa bisa merasa kayak gitu... Waktu itu teman-teman ada di dekatku, mereka semua bercanda dan tertawa, ramai sekali... Tapi aku toh tetap merasa kesepian..."
"Hemm... Ya, itu juga yang aku rasakan...? Kenapa ya...? dia bertanya lagi untuk kedua kalinya.
Aku lalu berkata, "Mungkin alasan kita kesepian adalah karena..."
Tiba-tiba kata-kataku terhenti. Untuk beberapa saat, kami berdua terpaku dalam kesunyian, menunggu kata-kata berikutnya terucap.
"...Karena sebenarnya saat itu kita memikirkan seseorang dan kita ingin dia berada di samping kita, menemani kita dalam keramaian itu... Mungkin itu alasannya...? Dan mungkin itu juga yang kamu rasakan...?" akhirnya aku melanjutkan kata-kataku yang terputus tadi.
Dia terpaku sejenak, berpikir. Lalu akhirnya setelah diam tak berucap apapun, aku pun melanjutkan berbicara, "Yah, itu hanya pendapatku aja kok... Bisa jadi juga sebenarnya hati kita sedang lelah dan sedang ingin beristirahat dalam kesunyian...?"
"Ya, mungkin kamu benar... Mungkin aku sedang menginginkan seseorang untuk hadir di sana, tapi pada kenyataannya dia tidak ada di sana... Mungkin saat itu aku sedang merindukan seseorang ya...? Tapi memang benar, merindukan seseorang dan berharap akan kehadirannya itu memang melelahkan... Dan mungkin hatiku sudah lelah..." jawabnya lirih.
Aku menatapnya sambil tersenyum, "Nggak apa-apa... Wajar kalau kita terkadang merasa kesepian... Tapi andaikan suatu saat kamu merasa kesepian seperti itu lagi, ingatlah aku... Ingatlah sahabatmu ini..." kataku sambil tak berhenti tersenyum.
Ia lalu menatapku sejenak, lalu ikut tersenyum juga. "Iya deh, saat aku merasa kesepian nanti, aku akan coba untuk mengingat kalau ada kamu... Sahabat terdekatku..."
Kami pun lalu tetap saling tersenyum, hingga akhirnya kami berdua tertawa... Tertawa, karena kami percaya dan saling mendukung satu sama lain...Tertawa, tanpa ada rasa sepi yang tersisa...
Sabtu, 05 Januari 2008
Lembaran Daun Kehidupan
Siang itu, aku duduk sendirian. Di taman yang sepi, di bawah naungan pohon ek yang besar, tanpa ada seorang pun yang menemani. Mungkin awan mendung yang mulai menampakkan diri menjadi alasan tepat, mengapa tiada seorang pun yang lalu lalang di taman ini. Hanya aku seorang. Ya, hanya aku seorang.
Dalam kesunyian yang berlalu begitu saja, aku mulai merenungkan berbagai macam hal. Kesibukan yang pasti besok sudah akan menanti, lalu bagaimana aku akan menyelesaikan semua itu. Lalu aku juga mulai teringat akan teman-temanku yang sudah jarang kutemui, mengingat kesibukanku yang semakin bertambah. Kalau kuingat lagi, beberapa dari mereka bahkan sudah tiada pernah lagi aku temui. Karena aku benar-benar sudah lost contact dengan mereka.
Yah, mungkin mereka juga sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Tugas kuliah yang semakin bertumpuk, kesibukan kerja yang semakin bertambah, membagi waktu dengan pacar yang juga bukanlah hal mudah, atau bahkan bisa jadi mereka sudah disibukkan oleh urusan rumah tangga? Yang manapun bisa jadi alasan, karena setiap orang pasti punya kesibukan yang berbeda-beda. Waktu pun juga pasti akan terus berjalan. Dan kesibukan itu, entah kapan akan berakhir.
Sebuah daun yang gugur dari pohon ek tempatku bersandar, jatuh ke pangkuanku. Aku terpaku sejenak, kemudian aku melihat ke atas, melihat daun-daun yang rimbun itu. Setelah kuamati, selain daun yang tadi, banyak daun-daun lain yang juga berguguran. Benar juga, pohon ek ini sudah sebesar ini, pastinya sudah tua sekali. Dan pastinya seiring dengan berjalannya waktu yang terus-menerus berputar, semakin banyak juga daun yang gugur dan jatuh ke tanah. Yah, karena waktu terus berputar, terus, berjalan, terus, lalu ...
Tanpa aku sadari, air mata sudah menetes di pipiku beriring dengan hujan yang mulai turun dengan derasnya. Aku bingung. Aku jadi tak mengerti, kenapa air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. Aku sama sekali tak merasa bersusah hati, hingga ada sesuatu yang harus aku tangisi, tapi air mata ini, mengapa ...?
Akhirnya aku mengerti, ternyata tanpa aku sadari aku telah merenungkan tentang arti hidup ini sendiri. Manusia terdiam dalam kandungan ibunda, lalu keluar melihat dunia yang selama ini tak pernah diketahuinya, tumbuh dewasa, belajar banyak hal, mengalami banyak hal, lalu semakin dewasa dan mengalami semakin banyak lika-liku kehidupan. Saat ia dewasa, jadi orang seperti apakah ia? Jika ia seorang penjahat, apakah itu sesuai dengan yang dicita-citakannya saat kecil? Apakah sama, dengan apa yang diharapkan oleh ibunya, saat ia masih berada di dalam kandungan?
Lalu aku pun mulai mengingat diriku sendiri. Diriku, yang kini tak lagi serumah dengan ibuku. Keluar dari rumah begitu saja, karena ketidakcocokanku dengan beliau. Aku mulai mengerti, bahwa semua ini terjadi karena ego kami masing-masing. Ibu yang memiliki kehendak begini, dan aku yang punya kemauan begitu. Tapi yang paling benar adalah, karena keegoisanku yang benar-benar membutakan mata hatiku. Aku juga berpikir bahwa saat mengandungku, ibuku tak mungkin mengharapkan bahwa anaknya ini kelak akan menjadi orang yang kurang ajar, penentang dan hingga minggat dari rumah.
Namun itu hanyalah satu dosa yang pernah aku perbuat. Aku telah menyakiti banyak orang. Termasuk teman-temanku sendiri, pasti sudah banyak hal yang aku lakukan telah membuat mereka merasa tersakiti. Aku juga telah banyak mempermainkan perasaan wanita. Mulai dari teman dekatku sendiri yang sudah kukenal sejak lama, adik kelas yang awalnya tak kukenal lalu semakin dekat denganku, perempuan yang berkenalan denganku di jalan, hingga yang berkenalan denganku lewat SMS. Aku merasa sangat kotor, tidak berguna, tidak berharga, dan terlaknat. Ya, aku pun sadar. Semakin panjang waktu yang kulalui, semakin banyak dosa yang kuperbuat. Sudah cukup panjang waktu yang kuarungi, dan sudah banyak dosa yang kutumpuk. Namun apakah waktuku yang tersisa kini cukup untuk menebus itu semua ...?
Ya, waktu memang terus berputar, terus, berjalan, terus, lalu ... pada akhirnya manusia akan mengalami akhir dari kehidupan mereka ... Aku yang kini terpuruk dalam dosa-dosaku berharap, agar Sang Pemilik Kehidupan segera mencabut nyawaku dan mengirimku pergi dari dunia ini. Karena semakin lama aku hidup, aku hanya akan semakin menumpuk dosa saja, dan menambah nista pada dunia ini ...
Air mataku mengalir semakin deras, sederas hujan yang menemaniku dalam isak tangis. Tangis karena dosa, tangis karena ketidakbergunaan, tangis karena ketidakberhargaan ... tangis karena ... kesendirian ....
Mendadak aku tersentak. Ponselku berbunyi. Ada SMS yang masuk, dan lalu kubuka dan kubaca.
”Kak, lagi ngapain nih? Udah makan blm? Ntar sakit lho Kak ... : )
~Dee~”
Aku pun terdiam sejenak, menerima SMS itu. Dasar bodoh, pikirku. Untuk apa dia membuang-buang waktu dan pulsa hanya untuk SMS ini? Untuk apa dia memberi perhatian padaku, toh aku hanya manusia tak berharga yang bergelimang dosa? Dasar bodoh! Bodoh!
Namun, kemudian aku pun mulai menyadari hal yang lain. Bahwa seperti apapun aku sekarang, akan ada yang sedih kalau aku sakit, atau bahkan kalau aku tiada lagi di dunia ini ... Aku lalu sadar, kenapa aku dulu melakukan perbuatan-perbuatan macam itu. Aku pikir, ini semua adalah rencana-Nya. Agar aku bisa mengingatnya, menyadari kesalahan tersebut, lalu memperbaikinya. Dan mungkin, supaya aku bisa mencegah orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama dengan yang sudah aku perbuat. Kini, aku benar-benar sadar bahwa tak ada sesuatu yang diciptakan oleh-Nya dengan sia-sia. Semua ada makna yang begitu dalam terkandung di sana, bagi mereka yang mau membuka hati dan pikiran untuk menyadarinya ...
Hujan mulai reda, dan matahari sore mulai muncul dan bersinar kembali ... Aku menatap dedaunan yang telah gugur dan jatuh ke tanah tadi. Aku merasa, walaupun kelak pohon ini mati. Aku akan mengingat bahwa dulu di sini pernah ada sebuah pohon ek besar, yang menemaniku merenungi berbagai macam hal. Seperti kehidupan manusia, walaupun mereka tiada kelak, orang pasti akan mengingatnya dan mengingat apa yang telah ia perbuat ...
Dalam kesunyian yang berlalu begitu saja, aku mulai merenungkan berbagai macam hal. Kesibukan yang pasti besok sudah akan menanti, lalu bagaimana aku akan menyelesaikan semua itu. Lalu aku juga mulai teringat akan teman-temanku yang sudah jarang kutemui, mengingat kesibukanku yang semakin bertambah. Kalau kuingat lagi, beberapa dari mereka bahkan sudah tiada pernah lagi aku temui. Karena aku benar-benar sudah lost contact dengan mereka.
Yah, mungkin mereka juga sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Tugas kuliah yang semakin bertumpuk, kesibukan kerja yang semakin bertambah, membagi waktu dengan pacar yang juga bukanlah hal mudah, atau bahkan bisa jadi mereka sudah disibukkan oleh urusan rumah tangga? Yang manapun bisa jadi alasan, karena setiap orang pasti punya kesibukan yang berbeda-beda. Waktu pun juga pasti akan terus berjalan. Dan kesibukan itu, entah kapan akan berakhir.
Sebuah daun yang gugur dari pohon ek tempatku bersandar, jatuh ke pangkuanku. Aku terpaku sejenak, kemudian aku melihat ke atas, melihat daun-daun yang rimbun itu. Setelah kuamati, selain daun yang tadi, banyak daun-daun lain yang juga berguguran. Benar juga, pohon ek ini sudah sebesar ini, pastinya sudah tua sekali. Dan pastinya seiring dengan berjalannya waktu yang terus-menerus berputar, semakin banyak juga daun yang gugur dan jatuh ke tanah. Yah, karena waktu terus berputar, terus, berjalan, terus, lalu ...
Tanpa aku sadari, air mata sudah menetes di pipiku beriring dengan hujan yang mulai turun dengan derasnya. Aku bingung. Aku jadi tak mengerti, kenapa air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. Aku sama sekali tak merasa bersusah hati, hingga ada sesuatu yang harus aku tangisi, tapi air mata ini, mengapa ...?
Akhirnya aku mengerti, ternyata tanpa aku sadari aku telah merenungkan tentang arti hidup ini sendiri. Manusia terdiam dalam kandungan ibunda, lalu keluar melihat dunia yang selama ini tak pernah diketahuinya, tumbuh dewasa, belajar banyak hal, mengalami banyak hal, lalu semakin dewasa dan mengalami semakin banyak lika-liku kehidupan. Saat ia dewasa, jadi orang seperti apakah ia? Jika ia seorang penjahat, apakah itu sesuai dengan yang dicita-citakannya saat kecil? Apakah sama, dengan apa yang diharapkan oleh ibunya, saat ia masih berada di dalam kandungan?
Lalu aku pun mulai mengingat diriku sendiri. Diriku, yang kini tak lagi serumah dengan ibuku. Keluar dari rumah begitu saja, karena ketidakcocokanku dengan beliau. Aku mulai mengerti, bahwa semua ini terjadi karena ego kami masing-masing. Ibu yang memiliki kehendak begini, dan aku yang punya kemauan begitu. Tapi yang paling benar adalah, karena keegoisanku yang benar-benar membutakan mata hatiku. Aku juga berpikir bahwa saat mengandungku, ibuku tak mungkin mengharapkan bahwa anaknya ini kelak akan menjadi orang yang kurang ajar, penentang dan hingga minggat dari rumah.
Namun itu hanyalah satu dosa yang pernah aku perbuat. Aku telah menyakiti banyak orang. Termasuk teman-temanku sendiri, pasti sudah banyak hal yang aku lakukan telah membuat mereka merasa tersakiti. Aku juga telah banyak mempermainkan perasaan wanita. Mulai dari teman dekatku sendiri yang sudah kukenal sejak lama, adik kelas yang awalnya tak kukenal lalu semakin dekat denganku, perempuan yang berkenalan denganku di jalan, hingga yang berkenalan denganku lewat SMS. Aku merasa sangat kotor, tidak berguna, tidak berharga, dan terlaknat. Ya, aku pun sadar. Semakin panjang waktu yang kulalui, semakin banyak dosa yang kuperbuat. Sudah cukup panjang waktu yang kuarungi, dan sudah banyak dosa yang kutumpuk. Namun apakah waktuku yang tersisa kini cukup untuk menebus itu semua ...?
Ya, waktu memang terus berputar, terus, berjalan, terus, lalu ... pada akhirnya manusia akan mengalami akhir dari kehidupan mereka ... Aku yang kini terpuruk dalam dosa-dosaku berharap, agar Sang Pemilik Kehidupan segera mencabut nyawaku dan mengirimku pergi dari dunia ini. Karena semakin lama aku hidup, aku hanya akan semakin menumpuk dosa saja, dan menambah nista pada dunia ini ...
Air mataku mengalir semakin deras, sederas hujan yang menemaniku dalam isak tangis. Tangis karena dosa, tangis karena ketidakbergunaan, tangis karena ketidakberhargaan ... tangis karena ... kesendirian ....
Mendadak aku tersentak. Ponselku berbunyi. Ada SMS yang masuk, dan lalu kubuka dan kubaca.
”Kak, lagi ngapain nih? Udah makan blm? Ntar sakit lho Kak ... : )
~Dee~”
Aku pun terdiam sejenak, menerima SMS itu. Dasar bodoh, pikirku. Untuk apa dia membuang-buang waktu dan pulsa hanya untuk SMS ini? Untuk apa dia memberi perhatian padaku, toh aku hanya manusia tak berharga yang bergelimang dosa? Dasar bodoh! Bodoh!
Namun, kemudian aku pun mulai menyadari hal yang lain. Bahwa seperti apapun aku sekarang, akan ada yang sedih kalau aku sakit, atau bahkan kalau aku tiada lagi di dunia ini ... Aku lalu sadar, kenapa aku dulu melakukan perbuatan-perbuatan macam itu. Aku pikir, ini semua adalah rencana-Nya. Agar aku bisa mengingatnya, menyadari kesalahan tersebut, lalu memperbaikinya. Dan mungkin, supaya aku bisa mencegah orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama dengan yang sudah aku perbuat. Kini, aku benar-benar sadar bahwa tak ada sesuatu yang diciptakan oleh-Nya dengan sia-sia. Semua ada makna yang begitu dalam terkandung di sana, bagi mereka yang mau membuka hati dan pikiran untuk menyadarinya ...
Hujan mulai reda, dan matahari sore mulai muncul dan bersinar kembali ... Aku menatap dedaunan yang telah gugur dan jatuh ke tanah tadi. Aku merasa, walaupun kelak pohon ini mati. Aku akan mengingat bahwa dulu di sini pernah ada sebuah pohon ek besar, yang menemaniku merenungi berbagai macam hal. Seperti kehidupan manusia, walaupun mereka tiada kelak, orang pasti akan mengingatnya dan mengingat apa yang telah ia perbuat ...
Selasa, 01 Januari 2008
Lukisan Untuk Mimpi-Mimpi Yang Nun Jauh Di Sana
Ini hanyalah sebuah kisah singkat dalam suatu babak kehidupan yang panjang. Tentang seorang anak pendiam yang menyimpan berbagai mimpi dan cita-cita di dalam lubuk hatinya. Selain pendiam, dia juga bertubuh kecil. Wajahnya yang polos mengesankan imut, sehingga ia sering disangka perempuan. Karena alasan itu juga, dia sering diganggu teman-temannya.
Dia amat suka melukis. Sering ia duduk menyendiri melihat langit, di bawah bayangan pohon yang besar. Di sana ia melukis sambil sesekali melihat langit. Entah apa ia benar-benar hanya sekedar melihat langit, atau ia juga melihat mimpi dan cita-citanya di langit yang tinggi dan luas itu.
Seperti hari-hari biasa, saat ia akan pulang, ia dihadang oleh anak-anak yang biasa mengganggunya. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan mereka kali ini. Namun salah satu dari mereka mendorongnya hingga jatuh. Lembaran-lembaran gambar yang telah ia buat pun jatuh berserakan. Anak-anak itu lalu tercengang sejenak, melihat gambar-gambar yang begitu indah tersebut. Namun kemudian rasa iri dan dengki pun langsung muncul di hati anak-anak itu. Mereka lalu mulai mengejek, mengolok-olok, dan menginjak-injak serta menyobek gambarnya. Belum puas dengan apa yang mereka lakukan, anak-anak itu juga kemudian mulai memukulinya. Terakhir, salah seorang dari gerombolan itu itu menginjak tangannya hingga luka parah.
Sambil menahan rasa sakit di tangannya, anak itu pun berjalan pulang, dengan diiringi rintik-rintik hujan yang begitu deras. Sesampainya di rumah, ia mengobati tangannya, dan membalut tangannya dengan perban. Kemudian, apa yang dia lakukan setelah itu hanyalah satu : kembali melukis. Kali itu, ia melihat keluar sejenak lewat jendela, lalu duduk di depan kanvas dan mulai melukis. Sambil menahan rasa sakit yang amat sangat di tangannya, ia mencoba untuk melukis mimpi, cita-cita, serta harapan yang ada di hatinya saat ini. Tangannya bergetar, karena cedera yang ia derita di tangannya. Keringat mulai menetes, dan wajahnya menunjukkan rasa sakit yang amat sangat. Tak terbayangkan betapa besar kecintaannya pada melukis, sehingga ia mampu untuk sanggup bertahan dari rasa sakit tersebut.
Sambil mendengar suara rintik-rintik hujan, juga membayangkan hujan yang begitu deras yang di luar sana, ia terus melukis. Dengan mengingat mimpi-mimpi dan cita-cita yang ada di dalam lubuk hatinya, ia terus menggoreskan kuasnya. Hingga akhirnya lukisan itu selesai. Ia tersenyum, lalu ia pun beranjak dari duduknya, kemudian tidur di kasurnya.
Dalam tidurnya, ia bermimpi. Ia tidak melihat hujan deras yang tadi menemaninya saat melukis. Ia juga tidak lagi merasakan rasa sakit di tangannya. Ia hanya merasakan kebahagiaan dan rasa haru. Ia hanya melihat hamparan padang bunga yang cantik, dihiasi pelangi yang begitu indah. Dan nun jauh di ujung pelangi sana, terlihat pohon besar tempat di mana ia biasa melukis.
Ia lalu serta merta berlari menuju ujung pelangi, menuju pohon besar itu.
Ia lalu serta merta berlari ... menuju mimpi-mimpi dan cita-cita yang ia simpan di lubuk hatinya ...
Mimpi... yang juga tersirat dalam lukisan yang ia buat ...
Pelangi ... di padang bunga yang luas dan indah ... yang berujung pada pohon besar itu ... adalah pelangi yang menyudahi hujan deras berhias guntur dalam kehidupannya yang penuh penderitaan ...
Ini hanyalah sebuah kisah singkat dalam suatu kisah kehidupan yang panjang ... Panjang ... Namun juga terasa singkat ...
Dia amat suka melukis. Sering ia duduk menyendiri melihat langit, di bawah bayangan pohon yang besar. Di sana ia melukis sambil sesekali melihat langit. Entah apa ia benar-benar hanya sekedar melihat langit, atau ia juga melihat mimpi dan cita-citanya di langit yang tinggi dan luas itu.
Seperti hari-hari biasa, saat ia akan pulang, ia dihadang oleh anak-anak yang biasa mengganggunya. Ia berusaha untuk tidak menghiraukan mereka kali ini. Namun salah satu dari mereka mendorongnya hingga jatuh. Lembaran-lembaran gambar yang telah ia buat pun jatuh berserakan. Anak-anak itu lalu tercengang sejenak, melihat gambar-gambar yang begitu indah tersebut. Namun kemudian rasa iri dan dengki pun langsung muncul di hati anak-anak itu. Mereka lalu mulai mengejek, mengolok-olok, dan menginjak-injak serta menyobek gambarnya. Belum puas dengan apa yang mereka lakukan, anak-anak itu juga kemudian mulai memukulinya. Terakhir, salah seorang dari gerombolan itu itu menginjak tangannya hingga luka parah.
Sambil menahan rasa sakit di tangannya, anak itu pun berjalan pulang, dengan diiringi rintik-rintik hujan yang begitu deras. Sesampainya di rumah, ia mengobati tangannya, dan membalut tangannya dengan perban. Kemudian, apa yang dia lakukan setelah itu hanyalah satu : kembali melukis. Kali itu, ia melihat keluar sejenak lewat jendela, lalu duduk di depan kanvas dan mulai melukis. Sambil menahan rasa sakit yang amat sangat di tangannya, ia mencoba untuk melukis mimpi, cita-cita, serta harapan yang ada di hatinya saat ini. Tangannya bergetar, karena cedera yang ia derita di tangannya. Keringat mulai menetes, dan wajahnya menunjukkan rasa sakit yang amat sangat. Tak terbayangkan betapa besar kecintaannya pada melukis, sehingga ia mampu untuk sanggup bertahan dari rasa sakit tersebut.
Sambil mendengar suara rintik-rintik hujan, juga membayangkan hujan yang begitu deras yang di luar sana, ia terus melukis. Dengan mengingat mimpi-mimpi dan cita-cita yang ada di dalam lubuk hatinya, ia terus menggoreskan kuasnya. Hingga akhirnya lukisan itu selesai. Ia tersenyum, lalu ia pun beranjak dari duduknya, kemudian tidur di kasurnya.
Dalam tidurnya, ia bermimpi. Ia tidak melihat hujan deras yang tadi menemaninya saat melukis. Ia juga tidak lagi merasakan rasa sakit di tangannya. Ia hanya merasakan kebahagiaan dan rasa haru. Ia hanya melihat hamparan padang bunga yang cantik, dihiasi pelangi yang begitu indah. Dan nun jauh di ujung pelangi sana, terlihat pohon besar tempat di mana ia biasa melukis.
Ia lalu serta merta berlari menuju ujung pelangi, menuju pohon besar itu.
Ia lalu serta merta berlari ... menuju mimpi-mimpi dan cita-cita yang ia simpan di lubuk hatinya ...
Mimpi... yang juga tersirat dalam lukisan yang ia buat ...
Pelangi ... di padang bunga yang luas dan indah ... yang berujung pada pohon besar itu ... adalah pelangi yang menyudahi hujan deras berhias guntur dalam kehidupannya yang penuh penderitaan ...
Ini hanyalah sebuah kisah singkat dalam suatu kisah kehidupan yang panjang ... Panjang ... Namun juga terasa singkat ...
Langgan:
Entri (Atom)